Menu

Bicara problem pribadi di tempat kerja, bagaimana etikanya?

Hati-hati Dengan Problem Pribadi Anda

Susah tampaknya untuk tak bicara soal problem pribadi di tempat kerja, selama kurang lebih (minimal) delapan jam waktu Anda dalam sehari habis di tempat kerja.

Sebetulnya, bolehkah kita menceritakan hal-hal yang berbau pribadi di tempat kerja? Lalu, kepada siapa saja kita boleh curhat? Masalah apa saja yang boleh dibicarakan? Pembahasannya ada di bawah ini!

1. Kenapa keinginan itu begitu kuat…

Ya, kenapa? Butuh curhat! Saat beban begitu menghimpit, Anda pasti ingin bercerita.  Mengeluarkan uneg-uneg pasti bikin kepala jadi lebih ringan.

Entah itu masalah ringan yang sedang terjadi di rumah (tagihan kartu kredit yang menumpuk, tetangga yang suka menggoda Anda), keinginan dan cita-cita pribadi (beli mobil baru, mau cari sidejob agar punya penghasilan tambahan).

Begitu cerita, biasanya lega rasanya! Selain itu, suasana kantor yang kaku memang butuh penyegaran dengan berbagai topik ringan.

Nah, biasanya problem pribadi adalah topik yang paling menarik buat diceritakan. Alasan ketiga, dengan bercerita hal-hal pribadi dengan rekan kerja, secara tak langsung menunjukkan kalau Anda percaya pada rekan yang dicurhati tersebut.

2. Betulkah terlalu sering curhat di kantor bisa bikin masalah?

Tampaknya memang begitu! Karena hal ini bisa mengubah pandangan rekan kerja terhadap Anda. Bisa berefek menguntungkan pada Anda, sebaliknya, yang sering kali terjadi, justru mendatangkan masalah!

Misalnya saja besok Jenny harus mulai menyiapkan bahan presentasi buat klien. Jenny yang memang punya masalah rumah tangga mendadak stres berat karena lawyer yang mengurus perceraiannya memberi kabar buruk.

Karena Jenny sering curhat kepada Anda, tak bisa dihindari kalau Anda pun langsung simpati. Bahan presentasi? Ah, itu bisa menanti! Ini contoh yang menguntungkan. Masalahnya, kebanyakan curhat di kantor lebih sering memberi efek negatif.

Rekan kerja dan juga bos bisa menganggap Anda tak profesional karena mencampur adukkan kehidupan pribadi dan kantor.

3. Kepada Siapa Saja Anda Boleh Buka Mulut?

Tak banyak. OK, Anda boleh saja bercerita kepada rekan kerja yang paling dekat. Seharian suntuk bekerja, pastinya boleh, dong, bercerita sedikit soal hal pribadi untuk menyegarkan suasana.

Lebih bagus lagi kalau si teman juga melakukan hal yang sama. Hati-hati jika si sahabat di tempat kerja itu tak pernah bercerita apapun pada Anda.

Kepada rekan kerja yang sering makan siang, Anda juga boleh bercerita. Mungkin Anda sering makan siang dengan karyawan yang tak bekerja di departemen yang sama dengan Anda.

Nah, jika Anda memang mempercayainya, Anda boleh membeberkan sedikit topik ringan soal diri Anda.

4. Yang Dilarang Keras Diajak Bicara Tentang Problem Pribadi Adalah….

Tak lain dan tak bukan adalah sederetan bos, mulai dari supervisor, atasan langsung, big boss, apalagi CEO dan pembesar kantor.

Dengan mereka, usahakan agar Anda selalu berada dalam koridor profesional. Selain itu, jangan terlalu “murah hati soal urusan pribadi” dengan sekretaris boss.

Hati-hati, hal ini bisa jadi bumerang. Biarpun mbak-mbak atau ibu itu sangat baik hati dan ramah, jangan salah, sekretaris sering punya “kekuasaan” yang tak terduga (mereka sering jadi mata-mata big boss yang menyuruh mereka untuk mengawasi gerak-gerik karyawan!).

Selanjutnya, jangan sering membahas problem pribadi dengan bawahan Anda. Itu juga bahaya! Atasan yang bekerja dengan bagus, bawahan akan selalu menghormati. Atasan yang baik hati tapi masih sering mengompol, hm… staf akan menghormati tapi dengan sedikit mencibir!

Yang terakhir, tak perlu bercerita soal problem pribadi dengan anak magang. Alasannya? Sekali lagi, selalu pertahankan sikap profesional Anda.